Selasa, 25 Oktober 2016

Usia Kepala Dua?

Sebenarnya ini saya lagi banyak hal yang harus diselesaikan (elah sok sibuk lu), tapi tetiba kepikiran blog trus nginget-nginget kayaknya udah lama nggak corat-coret disini. dan ternyata...... emang bener, haha haha haha *ketawa yang sungguh miris*

Hmm, enaknya coret-coret apa ya? Saya sendiri juga bingung tapi ngebet banget buat posting sesuatu biar gak kosong seperti hati ini pfffft (tuhkan curhat tipis kan heu)

Dan kemudian kepikiran nulis tentang usia kepala dua.

Udah punya rencana sekitar satu tahun yang lalu sih sebenarnya, ketika memasuki usia 20 tahun. Tapi kayaknya kok belum banyak pengalaman gitu ya (kayak sekarang udah banyak aja waks). Dan pada akhirnya direalisasikan ketika udah umur 21 ini biar agak matengan dikitlah walau masih bau kencur heuu. Yak semoga postingan kali ini gak ngelantur dan ngebosenin, karena saya sebenarnya rindu posting wkwk.  Jadi maafkan kalo nulisnya asal aja hihi. Kuy lanjut!



Kepala Dua *bukan muka dua, plis*.

Apa sih yang ada di pikiran kalian saat memasuki usia berkepala dua

Kata orang-orang sih, usia kepala dua ini merupakan titik dimana mulai bertemu dan menghadapi kehidupan yang sesungguhnya. Di usia inilah segala target, mimpi dan apapun yang sedang diperjuangkan mulai minta untuk dibuktikan. Banyak keputusan-keputusan yang harus dipikirkan matang-matang ketika memasuki usia ini, karena keputusan apa yang akan diambil akan berdampak untuk kedepannya. Entah itu berdampak positif maupun negatif, semoga tetap positif dan syukur-syukur jika dapat memberikan manfaat bagi orang lain. 

Saya sendiri ketika memasuki usia 20 tahun, tahun 2015 kemarin, merasa nervous tetapi juga excited. Karena 'usia dua puluh tahun gituuh, hello! Finally, welcome to the 20's club!' (Biasalah, saya anaknya emang alay mohon dimaafkan)

Tetapi, pada saat itu juga saya merenung. Sudah mulai berpikir, udah mencapai target apa aja ya di 20 tahun hidup ini? Udah punya mimpi besar yang harus diperjuangkan belum ya? Aku mau ngapain ya di usia ini? Masa' mau hidup yang gini gini aja? Udah bermanfaat belum ya? Udah bisa bikin ortu seneng belum ya? Bisnis apa ya enaknya?

Seriusan tahun kemarin itu bener bener tahun yang membuat galau. Hahaha. Banyak yang dipikirin sampek kadang ngelamun sendiri di kamar. Sering bertanya pada diri sendiri, apa sih yang kamu pengenin buat dirimu sendiri, Dhir?



20 tahun bagi saya merupakan masa titik balik kehidupan saya. Saya yang mulanya bingung mau ngapain, sedikit demi sedikit mulai dapet pencerahan heu. Mulai menata hidup *brb mau mindah rancangan peta hidup dari yang ada otak ke kertas manila hiks masih coret coret di kertas dikit sih abisnya magerrrr! padahal anaknya gampang lupa. Ini bersyukur tumben tumbenan masih inget pffft*. Terus saya juga mulai dapet tujuan untuk apa saya hidup. ciyeeeh *lho iya loh saya kemaren galau juga gegara ini*, mulai tahu apa yang harus dilakuin (yang sesuai passion dan minat). Oh iya, di umur 20 tahun juga saya menemukan passion saya! Setelah melakukan pencarian, perenungan dan bertanya tanya pada diri sendiri huehehe dan alhamdulillah :)  Allah memang Maha Baik!

Di usia 20 tahun juga saya mulai serius untuk memperjuangkan Aderation Project. Dulu sih sebelum masuk usia 20 tahun, bisnis itu cuman buat selingan aja. Tapi lama kelamaan setelah menemukan passion saya yang ternyata ada dalam dunia creativepreneur, yang mana saya menjual hasil handmade saya (crafting dan doodle) dan itu membuat saya bahagia dan merasa 'hidup', akhirnya mulailah saya untuk memberanikan diri memperjuangkan Aderation Project. Disamping itu juga udah mulai sungkan sih minta duit mulu sama ortu wkwk. Yah setidaknya sekarang kalo mau beli kebutuhan pribadi maupun mau beli yang dipingin gak kudu nunggu jatah dari ortu dulu hehehehehehehehehehehe. Alhamdulillah perlahan lahan sudah mulai berjalan sesuai target. Bismillah semoga diberi kelancaran terus, walau pasti ada naik turunnya hihi. Mohon doanya ya!

Tujuan hidup? Alhamdulillah, di 20 tahun saya mulai menemukannya dan berusaha berkomitmen dengan itu. Hehehe. Jadi kalau lagi melenceng dan agak 'oleng', langsung nginget tujuan diri sendiri untuk hidup ini. HAHAHA #PencitraanBangetYhaPlisTolongDhir. Ya mungkin orang-orang berkata masih terlalu muda sih buat ini. Tapi kalau emang udah nemuin terus kenapa? Why not? Cuman berdoa aja semogaaaaa bisa komit buat mencapai tujuan itu huhu mohon doanya aja :')

Um, apalagi ya?

Oh iya, masalah...... hehehehehe. C I N T A.

*ngetiknya geli geli gimana gitu*

Yeah, di usia 20 tahun kemarin masih menye-menye kalo masalah 'gituan'. Masih gampang baper, hati dan logika masih nggak sejalan (masih banyak pake hatinya daripada logikanya), masih gampang terluka gara gara 'gituan' *salah siapa coba?*, masih agak susah ngontrol wqwq emang yah sungguh menyedihkan.

Tapi entah gimana caranya (apa mungkin terlalu sering baca tumblr tentang 'menjaga hati' dan juga bukunya Mas Kurniawan Gunadi yang sangat berperan!), di usia 21 tahun ini jadi bisa ngontrol diri. Gak menye-menye lagi perkara 'gituan'. Udah mengikhlaskan, mulai mempercayakan seluruhnya hanya padaNya. Meletakkan pengharapan hanya kepadaNya. Dan percaya nggak percaya, saya sekarang lagi ada di titik dimana hati bener-bener plong! 

Ternyata emang bener yah, kalo mengikhlaskan itu bikin hati lega. Haha. Kenapa nggak dari dulu aja yak? *sigh* 

Kuncinya emang mengikhlaskan sih. Banyakin shalawat dan istighfar kalo tiba tiba inget wqwq *masih berusaha nerapin wqwq semoga nggak wacana*. Yakin aja kalo bakal ditemukan sama 'the right one' di saat yang tepat menurutNya hueheu. Inget-inget Surah An-Nuur ayat 26 kalo yang baik bakal ditemukan yang baik hehehe.

Mungkin banyak orang yang berkata saya terlalu dini untuk melakukan hal ini di usia yang terbilang sangat muda. Kepala 2, Man! Masih awal lagi. Sekarang aja baru menginjak usia 21 tahun. HAHAHA.

Tapi menurut saya pribadi, selama itu hal yang baik dan bermanfaat, why not? ehehe.

Sepertinya terlalu banyak ya yang saya share dan curhat tipis-tipis di postingan ini hehehe mohon maaf anaknya emang gini kalo udah ngetik postingan, suka ngalir ngalor ngidul. Maafkan daku kalo ada yang nggak nyambung hihi semoga bisa diambil hikmahnya aja yaaaa :) 


Happy Tummy Yummy Tuesday!

Kamis, 06 Oktober 2016

Sebuah Cerpen: Tentang Mengikhlaskan

"Serius? Kamu nggak lagi bercanda, kan?"

Hira menggeleng, "Aku serius, Zah. Untuk kali ini, aku benar-benar serius."

Aku masih tak percaya. Kupastikan sekali lagi padanya,
"Kamu.... serius? Benar-benar mengikhlaskan dia?"

Dan Hira pun mengangguk mantap. "Kamu kaget ya? Hehe." Dia tersenyum ke arahku.

"Jelaslah. Aku tahu betapa kamu begitu mencintai dia, betapa kamu mengagumi dia. Menjadikan dia sebagai matahari untuk hatimu. Kita sahabatan udah lebih dari 5 tahun, keleus. Dan selama 5 tahun ini aku menjadi saksi atas kisah cintamu. Gimana gak kaget coba?" Aku nyerocos panjang kali lebar dan kemudian aku lanjut bertanya padanya,

"Jadi, apa yang membuat kamu mengikhlaskan dia? Jangan bilang kalau kamu udah punya gebetan lain?"

"Pengennya sih aku jawab gitu." Hira iseng menggodaku.

Aku mendengus, "Ih, seriusaaaan."

Tawa Hira langsung menyembur ketika melihat wajahku yang sok sokan ngambek.

"Iya iya, aku jawab nih. Jangan ngambek gitu dong, nanti gak dapet jodoh loh hahahaha." Hira dengan iseng mencubit pipiku.

"Jadi begini......."

Aku mendengarkan dengan penuh saksama. Akhir-akhir ini Hira memang sudah jarang curhat tentang Matahari -sebutan untuk sosok yang mengisi hati Hira selama 5 tahun terakhir ini-, jadi ketika hari ini Hira ngobrolin Matahari, aku langsung antusias. Kayaknya bakalan panjang.

"Kamu tahu kan kalau beberapa bulan belakangan ini aku udah jarang cuthat tentang dia?"

Aku mengangguk.

"Itu adalah masa-masa aku mulai berpikir dan merenung. Berpikir dan terus berpikir tentang rasa ini. Tentang dia. Merenungkan segala hal. Mencari segala hal tentang mengikhlaskan, tentang melapangkan hati.
Sungguh, rasanya memang berat. Menetralkan hati, membersihkan hati dari seseorang yang telah bersemayam dalam hati kita bertahun-tahun lamanya. Itu bukan hal mudah.
Mungkin kamu pernah tahu salah satu quote yang terkenal dari Tere Liye yang berbunyi,

"Hakikat cinta adalah melepaskan. Semakin sejati ia, semakin tulus kau melepaskannya. Percayalah, jika memang itu cinta sejati kau, tidak peduli aral melintang, ia akan kembali sendiri padamu.".

Dulu aku mengabaikan quote itu. Hanya mengingatnya, tapi tidak memahami dan meresapi. Aku terus mengharapkan Matahari sebagai teman hidupku, teman berjuangku dalam mencari ridhaNya. Tak pernah absen untuk menyelipkan namanya di setiap perbincanganku padaNya. Selalu berusaha belajar ini itu, menguasai ini dan itu, agar merasa pantas jika kelak nanti aku bersanding dengannya.

Tapi, setelah perenungan yang kulakukan dan memahami betul quote Tere Liye itu, aku tersadar bahkan merasa betul-betul tertampar. Aku menangis sejadi-jadinya. Betapa banyak hal yang aku lewatkan. Betapa aku harus lebih banyak bersyukur, lebih melapangkan hati untuk apapun. Dengan mengucap bismillah dan kemantapan hati, aku mengikhlaskannya."

Tak pernah kulihat ia semantap itu mengucapkannya. Matanya memancarkan kesungguhan. Aku terkesima.

"Lalu, sekarang bagaimana perasaanmu padanya? Sudah benar-benar ikhlasin dia kah? Sudah siap jika dia memang bukan takdirmu kah?" Aku bertanya.

Hira diam sebentar kemudian melanjutkan, "Inshaa Allah. Entah kenapa Zah, hatiku kini lebih lebih lega dari biasanya. Tanpa berharap pada siapapun selain Allah. Mengikhlaskan ternyata selega ini ya? Hehe." Dia tertawa sebentar.

"Kini aku berusaha menjalani hidup dengan lapang, Zah. Tanpa terus dihantui oleh teka-teki rasa yang kubuat sendiri. Tentang perasaannya padaku, tentang hal yang ada sangkut pautnya dengan dirinya. Takkan lagi hatiku terombang-ambing dengan segala hal tentangnya.

Kujalani segala takdir hidup dariNya ini dengan penuh rasa syukur, sabar, ikhlas dan pastinya dengan tawakkal. Doakan aku ya Zah. Doakan aku. Doakan aku agar tetap istiqomah hingga meraih JannahNya." Hira tersenyum lembut, matanya sedikit berkaca-kaca.

Aku menitikkan air mata. Ah, sahabatku... Kau begitu kuat. Kugenggam tangannya. Berusaha menguatkannya. "Ra, bolehkah aku bertanya satu hal? Apakah kamu merasa dendam dengan Matahari setelah kamu mengikhlaskannya?"

Hira mengusap air matanya yang jatuh beberapa tetes. Kemudian ia menjawab, "Sama sekali tidak. Justru aku ingin berterimakasih padanya karena dia mengajariku banyak hal. Tentang mencintai dalam diam. Tentang rindu dalam doa. Tentang penantian. Tentang penjagaan diri. Tentang iman, takwa, tawakkal, dan segala takdir dan juga ketetapanNya. Ah, sungguh aku ingin mengucapkan rasa terimakasih kepadanya secara langsung, tapi aku cukup tahu diri. Biar Allah yang menyampaikannya melalui perantaranya, Zah."

Ya Allah, sungguh ku berterimakasih padaMu telah kau anugerahkan Hira sebagai sahabatku. Aku merasa tertampar sore ini. Ah... Hira. Kau membuatku terharu. Semoga Allah selalu memberikan hal-hal terbaik untukmu.

"Ikut aku ke rumah yuk Zah? Bantu aku bungkusin kado-kado buat adik -adik kecil besok." Ucap Hira membuyarkan lamunanku.

"Hayuk! Pokoknya abis bungkusin kado, aku di traktir bakso Mang Mamat ya?"

"Yeeeeee, minta traktir mulu deh ni anak. Yaudah oke deh, demi sahabat baikku yang rela membantuku dan udah mau dengerin curhatanku selama ini. Hahaha." Hira tertawa riang.

Kami berdua berjalan beriringan menuju rumah Hira, ditemani dengan senja yang sedang cantik-cantiknya. Sungguh membuat hati terasa damai.

--------

Teruntuk yang sedang berjuang mengikhlaskan, selamat berjuang. Tetap percaya bahwa segala takdir dan rencana dariNya adalah yang terbaik. Tetap percaya, bahwa Allah selalu menyiapkan kejutan terindah yang tak pernah terbayangkan. Tetap berpasrah, tetap bertawakkal padaNya.

Hamasah!

Written with love,
Andhira A. Mudzalifa