Kamis, 06 Oktober 2016

Sebuah Cerpen: Tentang Mengikhlaskan

"Serius? Kamu nggak lagi bercanda, kan?"

Hira menggeleng, "Aku serius, Zah. Untuk kali ini, aku benar-benar serius."

Aku masih tak percaya. Kupastikan sekali lagi padanya,
"Kamu.... serius? Benar-benar mengikhlaskan dia?"

Dan Hira pun mengangguk mantap. "Kamu kaget ya? Hehe." Dia tersenyum ke arahku.

"Jelaslah. Aku tahu betapa kamu begitu mencintai dia, betapa kamu mengagumi dia. Menjadikan dia sebagai matahari untuk hatimu. Kita sahabatan udah lebih dari 5 tahun, keleus. Dan selama 5 tahun ini aku menjadi saksi atas kisah cintamu. Gimana gak kaget coba?" Aku nyerocos panjang kali lebar dan kemudian aku lanjut bertanya padanya,

"Jadi, apa yang membuat kamu mengikhlaskan dia? Jangan bilang kalau kamu udah punya gebetan lain?"

"Pengennya sih aku jawab gitu." Hira iseng menggodaku.

Aku mendengus, "Ih, seriusaaaan."

Tawa Hira langsung menyembur ketika melihat wajahku yang sok sokan ngambek.

"Iya iya, aku jawab nih. Jangan ngambek gitu dong, nanti gak dapet jodoh loh hahahaha." Hira dengan iseng mencubit pipiku.

"Jadi begini......."

Aku mendengarkan dengan penuh saksama. Akhir-akhir ini Hira memang sudah jarang curhat tentang Matahari -sebutan untuk sosok yang mengisi hati Hira selama 5 tahun terakhir ini-, jadi ketika hari ini Hira ngobrolin Matahari, aku langsung antusias. Kayaknya bakalan panjang.

"Kamu tahu kan kalau beberapa bulan belakangan ini aku udah jarang cuthat tentang dia?"

Aku mengangguk.

"Itu adalah masa-masa aku mulai berpikir dan merenung. Berpikir dan terus berpikir tentang rasa ini. Tentang dia. Merenungkan segala hal. Mencari segala hal tentang mengikhlaskan, tentang melapangkan hati.
Sungguh, rasanya memang berat. Menetralkan hati, membersihkan hati dari seseorang yang telah bersemayam dalam hati kita bertahun-tahun lamanya. Itu bukan hal mudah.
Mungkin kamu pernah tahu salah satu quote yang terkenal dari Tere Liye yang berbunyi,

"Hakikat cinta adalah melepaskan. Semakin sejati ia, semakin tulus kau melepaskannya. Percayalah, jika memang itu cinta sejati kau, tidak peduli aral melintang, ia akan kembali sendiri padamu.".

Dulu aku mengabaikan quote itu. Hanya mengingatnya, tapi tidak memahami dan meresapi. Aku terus mengharapkan Matahari sebagai teman hidupku, teman berjuangku dalam mencari ridhaNya. Tak pernah absen untuk menyelipkan namanya di setiap perbincanganku padaNya. Selalu berusaha belajar ini itu, menguasai ini dan itu, agar merasa pantas jika kelak nanti aku bersanding dengannya.

Tapi, setelah perenungan yang kulakukan dan memahami betul quote Tere Liye itu, aku tersadar bahkan merasa betul-betul tertampar. Aku menangis sejadi-jadinya. Betapa banyak hal yang aku lewatkan. Betapa aku harus lebih banyak bersyukur, lebih melapangkan hati untuk apapun. Dengan mengucap bismillah dan kemantapan hati, aku mengikhlaskannya."

Tak pernah kulihat ia semantap itu mengucapkannya. Matanya memancarkan kesungguhan. Aku terkesima.

"Lalu, sekarang bagaimana perasaanmu padanya? Sudah benar-benar ikhlasin dia kah? Sudah siap jika dia memang bukan takdirmu kah?" Aku bertanya.

Hira diam sebentar kemudian melanjutkan, "Inshaa Allah. Entah kenapa Zah, hatiku kini lebih lebih lega dari biasanya. Tanpa berharap pada siapapun selain Allah. Mengikhlaskan ternyata selega ini ya? Hehe." Dia tertawa sebentar.

"Kini aku berusaha menjalani hidup dengan lapang, Zah. Tanpa terus dihantui oleh teka-teki rasa yang kubuat sendiri. Tentang perasaannya padaku, tentang hal yang ada sangkut pautnya dengan dirinya. Takkan lagi hatiku terombang-ambing dengan segala hal tentangnya.

Kujalani segala takdir hidup dariNya ini dengan penuh rasa syukur, sabar, ikhlas dan pastinya dengan tawakkal. Doakan aku ya Zah. Doakan aku. Doakan aku agar tetap istiqomah hingga meraih JannahNya." Hira tersenyum lembut, matanya sedikit berkaca-kaca.

Aku menitikkan air mata. Ah, sahabatku... Kau begitu kuat. Kugenggam tangannya. Berusaha menguatkannya. "Ra, bolehkah aku bertanya satu hal? Apakah kamu merasa dendam dengan Matahari setelah kamu mengikhlaskannya?"

Hira mengusap air matanya yang jatuh beberapa tetes. Kemudian ia menjawab, "Sama sekali tidak. Justru aku ingin berterimakasih padanya karena dia mengajariku banyak hal. Tentang mencintai dalam diam. Tentang rindu dalam doa. Tentang penantian. Tentang penjagaan diri. Tentang iman, takwa, tawakkal, dan segala takdir dan juga ketetapanNya. Ah, sungguh aku ingin mengucapkan rasa terimakasih kepadanya secara langsung, tapi aku cukup tahu diri. Biar Allah yang menyampaikannya melalui perantaranya, Zah."

Ya Allah, sungguh ku berterimakasih padaMu telah kau anugerahkan Hira sebagai sahabatku. Aku merasa tertampar sore ini. Ah... Hira. Kau membuatku terharu. Semoga Allah selalu memberikan hal-hal terbaik untukmu.

"Ikut aku ke rumah yuk Zah? Bantu aku bungkusin kado-kado buat adik -adik kecil besok." Ucap Hira membuyarkan lamunanku.

"Hayuk! Pokoknya abis bungkusin kado, aku di traktir bakso Mang Mamat ya?"

"Yeeeeee, minta traktir mulu deh ni anak. Yaudah oke deh, demi sahabat baikku yang rela membantuku dan udah mau dengerin curhatanku selama ini. Hahaha." Hira tertawa riang.

Kami berdua berjalan beriringan menuju rumah Hira, ditemani dengan senja yang sedang cantik-cantiknya. Sungguh membuat hati terasa damai.

--------

Teruntuk yang sedang berjuang mengikhlaskan, selamat berjuang. Tetap percaya bahwa segala takdir dan rencana dariNya adalah yang terbaik. Tetap percaya, bahwa Allah selalu menyiapkan kejutan terindah yang tak pernah terbayangkan. Tetap berpasrah, tetap bertawakkal padaNya.

Hamasah!

Written with love,
Andhira A. Mudzalifa

3 komentar:

  1. Balasan
    1. halooo, maaf baru lihat komenmu hihihi :) terimakasih yaaah ^^ semoga bisa diambil manfaatnya :D

      Hapus

Silahkan berkomentar :) No SPAM and SARA ya ^^